Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan keyakinannya terhadap resiliensi ekonomi Indonesia di tengah potensi gangguan rantai pasok global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait isu penutupan Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan seiring dengan upaya pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai target 5,4 persen (year-on-year/yoy) pada akhir tahun 2026.
Strategi Belanja Negara untuk Mendorong Pertumbuhan
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menjelaskan bahwa pemerintah akan mengimplementasikan strategi belanja negara yang terdistribusi secara merata di sepanjang kuartal. Langkah ini diambil untuk memastikan belanja pemerintah dapat menjadi motor penggerak yang berkelanjutan bagi pertumbuhan ekonomi. Percepatan realisasi belanja negara menjadi kunci untuk mencapai target pertumbuhan yang telah ditetapkan.
Data menunjukkan realisasi belanja negara hingga 28 Februari 2026 mencapai Rp493,8 triliun, atau 12,8 persen dari target, menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 41,9 persen (yoy). Sementara itu, penerimaan pajak juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 30,4 persen (yoy) menjadi Rp245,1 triliun, atau 10,4 persen dari target. Kemenkeu berharap, dengan akselerasi belanja ini, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 dapat melampaui capaian kuartal IV 2025 yang sebesar 5,39 persen (yoy).
Stimulus Ekonomi untuk Menjaga Daya Beli Masyarakat
Pemerintah juga mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai stimulus ekonomi. Beberapa stimulus yang telah digulirkan meliputi diskon tiket kereta api, tarif dasar angkutan laut, penghapusan tarif jasa pelabuhan, dan diskon tiket pesawat. Bantuan pangan berupa beras juga terus disalurkan kepada 35 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), sebagai upaya untuk meringankan beban ekonomi kelompok rentan.
Selain itu, pemerintah telah mencairkan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan total nilai mencapai Rp24,7 triliun hingga 10 Maret 2026. Febrio Kacaribu berharap penyaluran THR ini akan memberikan dorongan signifikan terhadap daya beli masyarakat selama bulan Ramadhan dan menjelang perayaan Idul Fitri, yang pada gilirannya akan meningkatkan belanja masyarakat secara keseluruhan di kuartal I 2026.
Antisipasi Dampak Geopolitik Terhadap Rantai Pasok
Ancaman gangguan rantai pasok global, khususnya akibat potensi penutupan Selat Hormuz, menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi lalu lintas komoditas energi dunia, dan penutupannya dapat berdampak signifikan terhadap harga energi dan ketersediaan pasokan global. Kemenkeu menyadari potensi dampak negatif ini dan berupaya untuk memitigasinya melalui kebijakan fiskal yang responsif dan adaptif.
Pemerintah terus memantau perkembangan situasi geopolitik global dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mengantisipasi dampak yang mungkin timbul. Diversifikasi sumber pasokan dan peningkatan efisiensi logistik menjadi fokus utama dalam menjaga stabilitas rantai pasok nasional. Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Prospek Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global
Meskipun dihadapkan pada tantangan global yang kompleks, Kemenkeu tetap optimis terhadap prospek ekonomi Indonesia. Pemerintah meyakini bahwa dengan strategi yang tepat dan koordinasi yang baik antar lembaga, Indonesia dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan. Implementasi kebijakan fiskal yang hati-hati dan berkelanjutan, serta dukungan terhadap sektor-sektor ekonomi yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, menjadi kunci untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.
Keberhasilan Indonesia dalam mengelola pandemi COVID-19 dan menjaga stabilitas ekonomi makro menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan global yang ada. Pemerintah berkomitmen untuk terus melakukan reformasi struktural dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional agar Indonesia dapat menjadi pemain yang lebih kuat di panggung ekonomi global.




