Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk menetapkan status tanggap darurat bencana. Keputusan ini diambil sebagai respons cepat terhadap meluasnya dampak banjir dan untuk mempermudah koordinasi antar berbagai pihak dalam upaya penanggulangan bencana. Bupati Demak, Eisti’anah, menegaskan bahwa penetapan status tanggap darurat ini krusial agar seluruh elemen pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat dapat bergerak sinergis dalam menangani krisis.
Meluasnya Dampak Banjir di Demak
Banjir di Demak dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan meluapnya beberapa sungai utama, termasuk Sungai Dombo dan Sungai Tuntang. Beberapa kecamatan terdampak cukup parah, di antaranya Kebonagung, Guntur, Mranggen, dan Sayung. Luapan Sungai Dombo menyebabkan banjir signifikan di wilayah Sayung, sementara jebolnya tanggul di Pilangwetan memperparah genangan air di Desa Tlogosih. Akses jalan utama Grobogan-Semarang di wilayah Kebonagung sempat terputus akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang, mengganggu aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.
Meskipun kondisi di beberapa wilayah seperti Tlogoweru, Kebonagung, dan Perumahan Arion di Mranggen dilaporkan mulai berangsur surut, namun dampak banjir masih terasa signifikan. Dapur umum yang sempat didirikan untuk memenuhi kebutuhan pengungsi juga mulai ditarik seiring dengan penurunan ketinggian air. Namun, pemantauan intensif terus dilakukan, terutama di wilayah yang terdampak jebolnya tanggul, mengingat proses surutnya air di area tersebut membutuhkan waktu lebih lama.
Aktivasi Status Tanggap Darurat dan Implikasinya
Status tanggap darurat bencana di Kabupaten Demak resmi diberlakukan sejak 17 Februari 2026 dan direncanakan berlaku selama 14 hari ke depan. Peningkatan status dari sebelumnya siaga bencana ini bertujuan untuk mempercepat proses penanganan, termasuk dalam hal penggunaan anggaran darurat, penyediaan operasional penanganan, serta upaya perbaikan tanggul sementara. Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kabupaten Demak, Agus Sukiyono, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan respons yang lebih efektif dan efisien terhadap kebutuhan mendesak masyarakat terdampak.
Status tanggap darurat memungkinkan pemerintah daerah untuk mengakses sumber daya tambahan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dalam situasi krisis. Hal ini mencakup mobilisasi personel, peralatan, dan logistik yang dibutuhkan untuk membantu korban banjir dan memulihkan infrastruktur yang rusak. Selain itu, status ini juga membuka peluang untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat dan lembaga-lembaga non-pemerintah lainnya.
Upaya Penanggulangan dan Pemulihan
Pemerintah Kabupaten Demak telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi dampak banjir dan membantu masyarakat terdampak. Salah satunya adalah dengan membuka pintu-pintu air di hilir untuk mempercepat aliran air dan mempercepat pengeringan lahan pertanian, terutama sawah yang belum dipanen. Langkah ini diharapkan dapat membantu petani menyelamatkan hasil panen mereka dan mengurangi kerugian ekonomi akibat banjir.
Pemantauan kondisi lapangan terus dilakukan secara intensif, terutama di daerah aliran air dari tanggul yang jebol, untuk memastikan genangan benar-benar surut dan tidak menimbulkan dampak lanjutan. Tim gabungan dari berbagai instansi terkait juga dikerahkan untuk memberikan bantuan logistik, pelayanan kesehatan, dan dukungan psikososial kepada masyarakat yang mengungsi.
Tantangan dan Langkah ke Depan
Meskipun upaya penanggulangan terus dilakukan, banjir di Demak menyisakan sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah perbaikan infrastruktur yang rusak, termasuk tanggul sungai yang jebol. Pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat infrastruktur pengendalian banjir dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana serupa di masa depan.
Selain itu, penting juga untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan tata ruang wilayah untuk mengidentifikasi potensi risiko banjir dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang efektif. Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai mitigasi bencana juga perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih siap dan tanggap dalam menghadapi ancaman banjir. Dengan upaya yang terkoordinasi dan berkelanjutan, diharapkan Kabupaten Demak dapat mengurangi risiko banjir dan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana alam.




