Bandung – Gemuruh bedug memecah keheningan malam takbiran di depan Gedung Sate, Bandung, Jumat malam. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar Festival Dulag, sebuah upaya untuk menghidupkan kembali tradisi yang mulai memudar, sekaligus menciptakan suasana kondusif menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Ribuan warga tumpah ruah, menyaksikan pertunjukan seni dan budaya yang memadukan tradisi dan modernitas.
Menghidupkan Kembali Tradisi Bedug
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa festival ini merupakan tahun kedua penyelenggaraannya di bawah kepemimpinannya. Tujuannya jelas: melestarikan tradisi menabuh bedug yang semakin langka, bahkan di pedesaan. "Ini tahun kedua, pertama di Gedung Pakuan saat ini di Gedung Sate yang tujuannya menghidupkan tradisi karena jangankan di kota, di desa saja sudah hampir enggak ada dan masjid sudah banyak tak punya bedug," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi pelestarian warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Bedug, sebagai instrumen tradisional, bukan sekadar alat untuk menandai waktu salat. Ia adalah simbol kebersamaan, identitas budaya, dan pengingat akan nilai-nilai luhur. Keberadaannya yang semakin jarang menjadi alarm bagi upaya pelestarian budaya yang lebih intensif.
Meredam Potensi Konflik di Malam Takbiran
Selain melestarikan tradisi, Festival Dulag juga bertujuan untuk menciptakan suasana takbiran yang kondusif. Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat mengurangi potensi konflik yang seringkali muncul dalam kegiatan takbir keliling. "Jadi tidak dalam bentuk kegiatan takbiran, keliling, menimbulkan kemacetan, kadang melahirkan konflik ya, jadi kita hadirkan hiburan tradisi ini," jelasnya.
Takbir keliling, meskipun memiliki niat baik untuk menyemarakkan malam Idul Fitri, seringkali berujung pada kemacetan, keributan, bahkan konflik antar kelompok. Festival Dulag menawarkan alternatif yang lebih terstruktur dan terkendali, di mana masyarakat dapat merayakan malam takbiran dengan aman dan nyaman.
Kemeriahan Festival dan Partisipasi Masyarakat
Festival Dulag 2026 berlangsung sangat meriah. Ribuan masyarakat dari berbagai usia memadati Jalan Diponegoro, menikmati dentuman bedug yang saling bersahutan. Gema takbir yang berkumandang menambah khidmat suasana malam itu. Para peserta festival, yang berasal dari 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat, serta perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tampil totalitas dengan menghias bedug dan lapak mereka dengan berbagai ornamen menarik.
Partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat menunjukkan antusiasme dan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya. Festival ini bukan hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga wadah untuk menjalin silaturahmi, mempererat persatuan, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap tradisi.
Dampak Positif dan Harapan ke Depan
Festival Dulag memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat Jawa Barat. Selain melestarikan tradisi dan menciptakan suasana kondusif, festival ini juga memberikan hiburan yang berkualitas bagi keluarga. Salah seorang pengunjung, Firman (39), mengaku sengaja membawa anak dan istrinya ke Gedung Sate untuk menyaksikan kemeriahan acara. "Ini hiburan bagi keluarga karena tradisi seperti ini sudah jarang," ujarnya.
Keberhasilan Festival Dulag 2026 membuka harapan untuk penyelenggaraan acara serupa di masa depan. Masyarakat berharap festival ini dapat menjadi agenda tahunan yang dinantikan, serta menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melestarikan tradisi dan budaya lokal. Pemerintah Provinsi Jawa Barat diharapkan terus memberikan dukungan dan inovasi agar Festival Dulag semakin meriah dan berdampak positif bagi masyarakat.
Festival Dulag bukan sekadar perayaan, melainkan investasi jangka panjang dalam pelestarian warisan budaya, penguatan identitas daerah, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Melalui kegiatan ini, Jawa Barat menunjukkan komitmennya untuk menjaga tradisi di tengah arus modernisasi, serta merajut kerekatan sosial yang harmonis.




