Ribuan warga Gorontalo tumpah ruah ke jalanan Kota Gorontalo, Kamis (19/2), untuk menyemarakkan tradisi Koko’o, sebuah ritual ketuk sahur yang khas. Perayaan Koko’o tahun 2026 ini hadir dengan skala yang lebih besar dan sentuhan modern, menandakan semangat pelestarian budaya lokal di bulan Ramadan.
Revitalisasi Tradisi Koko’o: Dari Kentungan Bambu Hingga Teknologi
Koko’o, atau tradisi membangunkan sahur dengan bunyi-bunyian, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di Gorontalo. Tahun ini, tradisi tersebut dihidupkan kembali dengan partisipasi yang luar biasa. Fiqram Idrus, Ketua Koko’o Gorontalo, menjelaskan bahwa sekitar 2.000 peserta turut serta dalam pawai, membawa kentungan bambu sebagai alat utama untuk memeriahkan suasana sahur.
Namun, yang membuat Koko’o tahun ini semakin menarik adalah sentuhan modern yang diterapkan. Rombongan pawai diiringi oleh truk-truk yang dihias dengan kreatif dan dilengkapi dengan sistem suara canggih serta permainan cahaya lampu yang memukau. "Setiap tahun kita update terus untuk konsep Koko’o Gorontalo," ujar Fiqram, "kita bermain desain panggung dan kita tambah lagi elemen yang ada untuk diperbarui setiap tahun."
Melestarikan Warisan Budaya untuk Generasi Muda
Lebih dari sekadar perayaan, Koko’o memiliki tujuan mulia, yaitu melestarikan tradisi lokal agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda Gorontalo. Fiqram menegaskan bahwa Koko’o bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sarana edukasi budaya. "Tradisi itu kita tetap bangun dari mulai anak kecil sampai dewasa, mereka harus tahu tradisi Gorontalo itu seperti apa," jelasnya.
Dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga orang dewasa, Koko’o menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Tradisi ini mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan cinta terhadap budaya lokal kepada generasi penerus.
Dukungan Pemerintah dan Antusiasme Masyarakat
Pelaksanaan Koko’o 2026 mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Gorontalo. Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel, secara resmi membuka acara tersebut, menunjukkan komitmen pemerintah dalam melestarikan dan mengembangkan budaya daerah.
Antusiasme masyarakat terhadap Koko’o juga sangat tinggi. Sri Desni Anjani Laia, seorang warga pendatang dari Nias, Sumatera Utara, mengaku terkejut dengan besarnya partisipasi masyarakat dalam acara tersebut. "First time saya lihat Koko’o ini, saya agak terkejut karena banyak masyarakat yang antusias dalam melihat dan ikut serta," ungkapnya.
Namun, Sri Desni juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan acara. Hal ini menjadi perhatian penting mengingat banyaknya peserta dan penonton yang terlibat.
Koko’o: Lebih dari Sekadar Tradisi, Simbol Semangat Ramadan di Gorontalo
Koko’o bukan hanya sekadar tradisi membangunkan sahur, melainkan juga simbol semangat Ramadan di Gorontalo. Perayaan ini menghidupkan suasana malam Ramadan dengan bunyi-bunyian, warna-warni, dan kegembiraan. Lebih dari itu, Koko’o menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi antar warga, melestarikan budaya lokal, dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
Dengan sentuhan modern yang kreatif, Koko’o berhasil menarik perhatian masyarakat luas dan membuktikan bahwa tradisi dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya. Koko’o akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di Gorontalo, sebuah warisan budaya yang patut dilestarikan dan dibanggakan.




