Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti (WSS), sebuah lembaga seni dan budaya yang berakar di Desa Tukadmungga, Buleleng, Bali, merayakan ulang tahun ke-11 dengan menggelar serangkaian kegiatan bakti sosial yang menyentuh langsung masyarakat. Perayaan yang berlangsung pada 13 Februari 2026 ini menjadi momentum penting bagi WSS untuk menegaskan komitmennya dalam memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.
Mengukuhkan Jati Diri Melalui Aksi Nyata
Perayaan ulang tahun WSS tahun ini mengusung tema "Vasudeva Kutumbakam," sebuah filosofi Hindu yang menekankan bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga. Tema ini diwujudkan melalui penyaluran 100 paket sembako kepada lansia, anak yatim, dan warga kurang mampu di sekitar Desa Tukadmungga. Aksi ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian dan rasa syukur WSS atas perjalanan panjangnya dalam melestarikan seni dan budaya Bali.
Kadek Angga Wahyu Pradana, salah satu pengurus yayasan, menekankan bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan bagian integral dari visi WSS. Menurutnya, seni tidak hanya terbatas pada pementasan di atas panggung, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. "Kami ingin sanggar tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial," ujarnya.
Sejarah Panjang dan Komitmen Terhadap Pelestarian Seni
Perjalanan Yayasan WSS dimulai jauh sebelum legalitas formalnya diakui pada tahun 2015. Benih-benihnya telah ditanam sejak tahun 1998 oleh Ketut Ardana, ayah dari Kadek Angga Wahyu Pradana. Restu dan dukungan dari sang ayah menjadi fondasi awal bagi pengembangan seni kerawitan dan tari di Buleleng. Seiring berjalannya waktu, WSS terus berkembang dan melebarkan sayapnya, tidak hanya sebagai sanggar seni, tetapi juga sebagai lembaga yang aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Legalitas formal pada tahun 2015 menjadi titik balik bagi WSS. Dengan status yang jelas, yayasan ini mampu mengembangkan program-programnya secara lebih terarah dan profesional. Selain melestarikan seni kerawitan dan tari, WSS juga aktif dalam mengadakan pelatihan, workshop, dan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya Bali.
Membangun Ekosistem Seni yang Inklusif dan Kolaboratif
Visi WSS ke depan adalah menjadi pusat kebudayaan inklusif di Buleleng. Untuk mewujudkan visi ini, WSS tidak hanya fokus pada pengembangan internal, tetapi juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk sanggar-sanggar seni lainnya. Angga berharap agar seluruh sanggar seni di Buleleng dapat saling merangkul dan berkolaborasi, tanpa adanya rasa persaingan yang tidak sehat.
Semangat kolaborasi ini tercermin dalam berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh WSS. Yayasan ini seringkali mengundang sanggar-sanggar seni lain untuk berpartisipasi dalam pementasan, workshop, dan kegiatan lainnya. Tujuannya adalah untuk menciptakan ekosistem seni yang sehat dan dinamis, di mana setiap pihak dapat saling belajar dan berkembang bersama.
Dampak Nyata Bagi Masyarakat
Penyaluran 100 paket sembako dalam rangka ulang tahun ke-11 hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak kegiatan bakti sosial yang telah dilakukan oleh WSS. Yayasan ini secara rutin mengadakan kegiatan sosial lainnya, seperti donor darah, pengobatan gratis, dan bantuan bagi korban bencana alam.
Dampak positif dari kegiatan-kegiatan ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Bantuan yang diberikan oleh WSS sangat membantu meringankan beban ekonomi masyarakat, terutama bagi mereka yang kurang mampu. Selain itu, kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh WSS juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan seni dan budaya Bali.
Sebagai penutup, Kadek Angga Wahyu Pradana menyampaikan harapannya agar Yayasan WSS dapat terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Buleleng dan Bali secara keseluruhan. Ia berharap agar WSS dapat menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga lain untuk turut aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian, WSS yakin bahwa Bali dapat menjadi lebih baik di masa depan.


